REVOLUSI AKHLAQ DI NEGERI KITA

Kita sebagai muslim yang mengadakan “perjalanan” di alam dunia, secara tidak disadari menggantungkan cita-cita maupun tujuan hidup yang umumnya hubud dunya, cinta dunia.

Padahal Allah, telah memperingatkan kita dalam firmanNya, yang artinya

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka Kami penuhi balasan pekerjaan-pekerjaannya di dunia dan mereka tidak akan dirugikan sedikitpun. Tetapi di akhirat tidak ada bagi mereka bagian selain neraka. Dan sia-sialah apa-apa yang mereka perbuat di dunia dan batallah apa-apa yang mereka amalkan”. (QS. Hud : 15-16)

Sebaiknya kita sebagai muslim harus berupaya atau bercita-cita menjadi muslim yang terbaik. Inilah perwujudan apa yang disunnahkan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yakni menjadi muslim yang Ihsan. Ihsan adalah kata dalam bahasa Arab yang berarti “kesempurnaan” atau “terbaik.”

Sewaktu Jibril bertanya-jawab dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di depan para sahabat, Ihsan maksudnya adalah “seolah-olah kita melihat-Nya walaupun kita tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat kita”

Keadaan muslim yang Ihsan , “seolah-olah melihatNya” akan memotivasi kita untuk melaksanakan perintahNya, menjauhi laranganNya.

Muslim yang “seolah-olah melihatNya”, akan menjauhi laranganNya seperti, sombong, riya, ujub, bohong, korupsi, mafia kasus/hukum, membuka aurat di depan orang yang tidak berhak, pornografi atau pornoaksi, zina, narkoba, riba dll. Inilah solusi untuk revolusi akhlak bagi muslim di negeri kita ini.

Bagaimanakah kita mewujudkan “seolah-olah melihatNya” atau bertemu Allah atau dekat dengan Allah atau bersama Allah (billah) ?

Imam Qusyairi mengatakan
“Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”.

Dengan selalu sadar dan ingat kepada Allah (mengingat Allah), seorang muslim dapat mencapai tingkatan Ihsan, “seolah-olah melihat-Nya”.

Penuhilah hati kita dengan selalu mengingat Allah, kita akan mencapai muslim yang Ihsan, “seolah-olah melihat-Nya”.

Sebagaimana yang dikisahkan seorang pemuda dengan kekasih wanita nya. Di mana pria setiap akan makan, mandi, tidur dan perbuatan lainnya selalu mengingat sang kekasih dan hatinya dipenuhi kekasihnya atau kekasihnya selalu hadir di hati pemuda itu, maka pemuda itu akan “seolah-olah melihat kekasihnya”. Pemuda tersebut “seolah-olah” menjadi hamba sang kekasih.

Begitu pula bagi seorang muslim, yang mengingat Allah setiap melakukan perbuatan seperti ketika makan, mandi, tidur, mengadakan perjalanan dan perbuatan yang lain, muslim yang selalu mengingat Allah, sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi akan mencapai tingkatan ihsan, “seolah-olah melihatNya”. Muslim yang menjadi hamba Allah.

Agar kehidupan kita di alam dunia ini selalu mengingat Allah maka seluruh perbuatan kita di alam dunia harus dengan sadar dan selalu mengingat Allah. Semua perbuatan muslim di alam dunia harus karena Allah (lillah) dan bersama atau dengan pertolongan Allah (billah).

Ini sekaligus bantahan bagi kaum sekuler yang memisahkan urusan dunia dengan urusan dengan Tuhan atau agama. Sehingga kelirulah bagi muslim yang mengatakan Agama Islam : Yes, Partai Islam : No.

Apapun perbuatan, profesi, organisasi, institusi, lembaga, partai politik, jama’ah minal muslimin, harus merujuk kepada Al-Qur’an dan Hadits. Para pendiri negeri inipun menyadari bahwa pendirian atau kemerdekaan negara adalah atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa sebagaimana yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945.

Oleh karenanya kelirulah manusia yang merasa hidup seorang diri dan segala sesuatu merupakan adalah upaya manusia sendiri sehingga lupa mengingat Allah. Sehingga ada yang merasa gagal dalam upaya dan hidupnya serta merasa seorang diri menjalankan kehidupannya, akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri dengan cara bunuh diri.

Padahal Allah, setelah menciptakan Manusia, Dia tidak membiarkan ciptaanNya begitu saja. Dia mengurusi manusia dengan ke Maha Pemurah dan Maha Penyayang Nya. Sungguh seorang manusia dalam perjalanannya di alam dunia tidaklah seorang diri, kita selalu dekat dengan Allah, hanya kita menghijabi diri dari Allah. Salah satu hijabnya adalah ego diri atau kesombongan diri.

Firman Allah yang artinya,

“Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur” (QS al Baqarah 2 : 255) .

Katakanlah: “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari dari (azab Allah) Yang Maha Pemurah?” Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Tuhan mereka. (QS al Anbiyaa 21:42)

“Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ? Apakah disamping Allah ada tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya)” (QS. An Naml 27 : 62)

Berikut sebagian langkah-langkah kita sebagai muslim agar dalam perjalanan di alam dunia, seluruh waktunya dalam kesadaran dan selalu mengingat Allah.

1. Tobat

Salah satu yang menghijabi manusia dari kedekatan atau bersama Allah (billah) adalah dosa. Segeralah mengingat Allah dengan bertobat yang sesungguhnya.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (QS Ali Imran 3 : 135)

Allah dengan tegas menyatakan dalam ayat diatas bahwa salah satu ciri orang yang bertaqwa kepada Allah yaitu mereka yang apabila melakukan kesalahan, mereka kemudian mengingat Allah serta bertaubat atas segala kesalahan yang dilakukannya dan tidak akan meneruskan atau mengulangi kesalahan.

Mengingat manusia adalah tempat salah dan lupa maka Allah dengan sifat Rahman dan RahimNya senantiasa membuka pintu taubat dan ampunanNya sampai kelak matahari terbit dari arah barat saat dimana kiamat kubra akan terjadi.

Nabi Muhammad SAW menjelaskan akan hal itu dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim yang artinya: ” Sesungguhnya Allah taala membentangkan tanganNya pada waktu malam untuk menerima taubat orang yang berdosa pada waktu siang, dan Ia membentangkan tanganNya pada waktu siang untuk menerima taubat orang yang berdosa pada waktu malam, sehingga matahari terbit dari arah barat (sampai kiamat).” ( H.R. Muslim )

2. Akhlakul kharimah

Dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, akhlak diartikan sebagai budi
pekerti atau kelakuan. Dalam Bahasa Arab kata akhlak (akhlaq) di¬
artikan sebagai tabiat, perangai, kebiasaan, bahkan agama.

Akhlak atau etika islami merupakan tema penting yang seringkali dibahas dalam kajian tazkiyatunnufus (pensucian diri), akhlak juga merupakan salah satu poin penting yang karenanya diturunkan Rasul pilihan, Nabi akhir zaman Muhammad Saw. “sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak”.

Akhlak islami merupakan sifat kepribadian yang sangat dianjurkan oleh agama yang hanif ini, dan menyerukan kepada segenap kaum muslimin untuk menghiasi diri mereka dengannya.

Akhlak adalah manifestasi batin seorang muslim yang mana pada hari akhir nanti akan ditampakkan segala hakikatnya. Sebagaimana pada diri manusia ada sisi jasmani yang dhohir, yang merupakan postur tubuh manusia itu sendiri manusia juga memiliki kerangka rohaniyahnya yang jika ditempa dengan baik dan dirawat maka akan menghasilkan bentuknya yang indah sebagaimana jasmani kita yang sering kita rawat dengan telitinya. Tetapi Allah hanya menilai bentuk rohaniyah dari seorang hamba-Nya saja, “seseunggunhnya Allah Swt tidak melihat kepada bentuk tubuh kalian melainkan pada hati kalian”.

Akhlakul kharimah merupakan akhlak muslim yang selalu dalam kesadaran dan mengingat Allah antara lain, menahan amarah, pemaaf, berprasangka baik, jujur, amanah, sabar, ikhlas, qanaah, wara’, tawadhu, dll

Alhamdulillah, adanya kesadaran dari pemerintah melalui melalui Kementerian Pendidikan Nasional yang sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter untuk semua tingkat pendidikan, dari SD-Perguruan Tinggi . Namun pendidikan karakter bukanlah pendekatan melalui filsafat, psikologi, motivasi, menurut prasangka manusia atau hubungan antar manusia semata, yang terbaik adalah pendekatan melalui pendidikan akhlakul kharimah, menghubungkan kembali manusia dengan Allah, mendidik manusia untuk dapat menghilangkan hijabnya dengan Allah sehingga dapat merasakan kedekatan atau kebersamaan dengan Allah yang memotivasi untuk mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya.

Silahkan baca juga tulisan tentang pendidikan dan akhlak pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/07/pendidikan-akhlak/

3. Dzikir dan Doa

Dzikir jahar dan dzikir khofi kita lakukan dalam upaya untuk selalu mengingat Allah yang merupakan sebuah latihan untuk memunculkan akhlakul karimah karena selalu merasa dilihat Allah sampai meningkat kepada keadaan seolah-olah melihatNya.

4 Sholat wajib dan Sholat Sunnah, waktu terhubung kita dengan Allah pada waktu-waktu yang telah ditentukan..

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.” (QS Thaha 20: 14)

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al Ankabut 29: 45)

Nabi Muhammad Saw bersabda, bahwa Ash-shalatul Mi’rajul Mu’minin , “sholat itu adalah mi’rajnya orang-orang mukmin”. Yaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fisik manusia menuju ke hadirat Allah.
Selengkapnya bacalah tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/26/tips-sholat-khusyu/

2. Puasa, biasakanlah puasa senin-kamis atau yang lainnya, sehingga “keadaan” sedang berpuasa menambah waktu kita terhubung dengan Allah. Bukan sekedar menahan lapar dan haus saja.

“Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, yaitu kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan Tuhannya” (HR Bukhari)

Begitu juga selalu menjaga wudhu, menambah waktu kita terhubung dengan Allah.

3. Zuhudlah di dunia, menambahah waktu kita terhubung dengan Allah, bahkan bisa dikatakan sepanjang kehidupan di alam dunia.

Selengkapnya, silahkan baca tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/06/30/zuhudlah-di-dunia/

Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu `anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).

Jika Allah mencintai kita maka sebagaimana sabda Rasulullah SAW, dalam sebuah hadits qudsi, bahwa Allah SWT, berfirman:

“Apabila Aku (Allah) mencintai seorang hamba, maka pendengarannya adalah pendengaran untuk-Ku, penglihatannya adalah penglihatan-Ku, tangannya (kekuasaannya) adalah kekuasaan-Ku, perjalanan kakinya adalah perjalanan untuk-Ku”

Imam Ahmad berkata, “Zuhud ada tiga macam:

* Pertama, meninggalkan perkara haram, dan ini adalah zuhudnya orang awam.
* Kedua, meninggalkan perkara halal yang tidak berguna, dan ini adalah zuhudnya orang khas / khusus.
* Ketiga, meninggalkan hal-hal yang menyibukkan seorang hamba sehingga melupakan Allah, dan ini adalah zuhudnya orang-orang arif.”

Kita harus menjadi seorang arif adalah orang yang menyibukkan dirinya dengan Allah dan hanya melakukan perbuatan jika Allah yang berkenan dan bukan karena keinginan kita sendiri. Dengan zuhud di dunia , kita dapat mencapai keadaan manusia yang terhubung sampai (wushul) kehadhirat Allah.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

CAHAYA MATAKU

CAHAYA MATAKU (INI NUAR’AINA)

Kaki melangkah serasa berat, menapak satu meraih pintu yang tak terkunci. Suara deritan menyadarkanku, ternyata sudah sekian tahun pintu kamar anakku tak pernah diminyaki. Nampak wajah demikian polos  menyingkap, bukan lagi membayang, seperti saat tergesa dari kantor tadi, wajah cantik merona, bersih, dengan lekuk yang sempurna. Nafas satu-satu, terlihat letih seharian. Sejenak meyakinkan diriku, kupandang, helaan nafas pendek, mengantarkan anganku..

Kecantikanmu tak kalah dengan bulikmu nak..”. Bisikku lirih dalam hati, rasa syukur, atau mungkin ada  kebanggaan juga..?.

Betapa tidak, Bulikmu dulu di era tahun 90-an, banyak menghiasi media masa, beberapa ajang ratu kecantikan tingkat nasional diraihnya. Tapi itu dulu. Sekarang bulikmu telah menutup semua auratnya, hanya nampak kedua matanya yang indah saja. Gelora jihad membahana dari setiap tarikan suaranya. Bukan lenggokan gemulai penari, sekarang lebih kepada gairah Islami. Tentu tak lupa ayahmu juga mensyukurinya. Dan kali ini, meski hanya 1 jam ayah ingin memandangimu nak. Memandang wajahmu.  “Berita hari ini benar telah meng-gentarkan ayah..”

Menggumam lirih..seakan berusaha menyapa, memelas berbisik, namun nampaknya kau tak mengerti ini,  kau tetap pulas, mungkin sedang ber mimpi. Sementara Ayahmu senantiasa mengkhawatirkanmu. Begitu pula disini, saat ini.

Mencoba menenangkan diri, masih saja nafas agak tertahan, ketergesaan saat pulang dari kerja, tak mampu disembunyikan. Ada lara yang tersudut, ada sakit yang membesut, ada khawatir, ada galau disana, bukan karena apa..?.  “Kekhawatiran seorang Ayah terhadap anak perempuannya. .”.

Sepertinya tak tega, kucium keningnya perlahan, seakan takut membangunkan kenyenyakan tidurnya. Nampaknya tak terpuaskan , tak tuntas !. “Nak..jawablah dengan jujur pertanyaan Ayah..apakah engkau unduh vidio Luna Maya-Ariel-Cut Tari…?..jawablah nak..apakah engkau menyaksikannya. .?” .

Sepertinya kuberteriak ..Diam..keheningan malam..yang diam. Nyatanya tak bersuara. Bagaimana diriku ini..! Layaknya aku ingin menanyakan seperti itu. Bukankah pertanyaan itu telah aku hapalkan berulang kali, sejak kepulanganku dari tempat kerja ?. Kenapa..?. Kini, hanya tersekat dikerongkongan saja. Tak mampu. Benar aku tak mampu menanyakan itu. Apakah aku takut akan jawabannya.. ?. Tidak..bukan. .bukan itu. Lebih dari itu semua.

Ugh..Badan letih ini kuhempaskan, di sofa tempat biasa anakku belajar, di kamanya. Hati ini telah berkeping, sebagaimana cermin yang terlempar. Rasa berkecamuk memaksa jiwa dan raga meronta, merampas semua harapan yang kupunya. Ingin kuteriakkan kata kepada siapa?, Siapa  yang bertanggung jawab memimpin negeri ini?. Yang telah membiarkan kenistaan itu merajalela. Membiarkan, meliarkan nafsu merajai dunia maya dan realita.  Dalam angan manusia. Mencabut norma dari akal manusia. Melepaskan hasrat dari sangkar jiwanya.

Bukankah kementerian yang bertanggung jawab terhadap peredaran video porno di internet, di nakhodai oleh tokoh utama organisasi Islam yang mumpuni di negeri ini..?. Apakah mereka tidak memiliki keberanian menutup akses ini. Duh.. Meski mengerti itu, tetaplah nelangsa, mau di bawa kemana bangsa yang memiliki penduduk mayoritas muslim ini.

Hati tak kuasa bertanya miris “Mungkinkah mereka punya anak-anak seperti kami..?.”

Ataukah mereka merasa tidak dititipi apa-apa dari Tuhan-NYA..? . Kepada siapakah mereka takut..?. Kulemparkan pertanyaan bodoh. Karena tahu hanya orang bodoh yang mau menjawab ini. Mereka yang merasa pintar, merasa tak perlu menjawabnya. Karena bagi mereka Tuhan adalah sesuka mereka mem-presepsi- kannya. Kalaupun sekarang mereka berkuasa dan kaya, tak perlu merasa berdosa, sebab sebelum matinya,  pintu tobat toh masih bisa. Begitu enaknya Islam mereka kibulin dengan begini ini. Mereka mau menipu Allah..?.

Mengapa jadi seperti ini, kutepis pikiran yang mengembara. Kutepis, Jiwa yang merasa menjadi hakim mempersalahkan semua.  Adakah yang salah..?. Tapi tidak dengan anakku. seakan tak rela, jika ada yang menyakiti. Bagaimana lagi jika tak mampu kubendung ini.

Dimanakah peran pemerintah.. ?.

Dimanakah peran para ulama-ulama kita, dalam membentengi  umatnya dari serbuan ini..?. Mereka sibuk mengaji..?.

Mereka sibuk dengan majelis-majelis dzikir mereka. Kalau begitu, berteriak sajalah, karena toh hanya ini yang bisa dilakukan, .?.

Apa mau dikata, jika umat Islam ternyata hanya baru bisa jadi pengguna saja. Terhadap teknologi informasi internet ini. Islam tidak mengarahkan umatnya untuk mengekplorasi, menggunakan akalnya untuk membangun peradaban terkini.

Jangan disalahkan jika kemudian, teknologi ini telah mencerai beraikan , tanpa sadar telah mencabik-cabik tradisi ke Islaman itu sendiri. Tanpa kita mampu memberikan solusi. Kemudian kita terperangah, tergagap gagap, seakan terbangun dari mimpi.

Internet ternyata di temukan oleh bangsa yang konon berasal dari kera dan babi. Yang sering kita sembur dengan caci maki, itu Bangsa Yahudi !. Namun tanpa malu kita membeo saja, dan dengan bangga terus  menggunakannya. Termasuk saya ini. benar-benar keterlaluan ya..?. Sudah terlanjur memang. Apalagi memang berguna untuk keseharian kita. Untuk malu pun sudah terlambat, bukan..?.

Sayangnya karena kita tidak menguasai teknologinya,  jadinya ya.. terserah apa kata dan apa mau mereka saja. Semua hidangan, semua kita lalap habis saja tak bersisa. Bahkan  sampah peradaban mereka pun,  tidak lupa juga kita sikat . Maka ketika banyak peradaban mereka, peradaban sisa-sisa mereka, masuk melalui internet ini, para orang tua hanya nestapa. Mau dibawa kemana anak-anak muslim kita ini nantinya. Oleh bapak-bapak kita tercinta yang duduk di kursi ber wibawa di singgasana istana para raja di senayan sana. Kita bertanya upaya apa yang dilakukan mereka ya..?.

Mencoba menelusuri lingkaran yang membebani, kembali pandangan tak lepas dari wajah polos yang terlelap. Wajah yang seakan tak mengerti kegalauan Ayahnya,  lelaki setengah baya ini. “Bukan karena Ayah takut jawaban mu nak...”

Seperti bergumam..bergaung terus dalam rongga pikiran. Mencari jawaban yang lebih pasti. Menggeleng lagi..“Bukan..bukan itu..!”.

Hanyut dalam pikiran yang dalam. Dalam keyakinan yang mulai menguat. Kepercayaan. .itulah nak. Ayah bangun kepercayaan kepadamu. Sebagaimana kesepakatan kita dahulu. Saat ketika pertama engkau mendapatkan tanda kedewasaanmu.  Kita bangun kepercayaan bersama. Dalam sebuah ikrar perjanjian antara engkau dan Ayah.

Apalah artinya jawabanmu bila Ayah tetap tidak percaya padamu. sambil meringis lirih, mencoba menaklukan kegalauan , yang terasa menghujam di hati. Serasa nafas mulai longgar, pemahaman menghantarkan dalam kesadaran bahwa  kepercayaan lebih dari semua itu.

Kegalauan itu sedikit demi sedikit memudar, berganti sebuah keyakinan yang dalam. rasa saling percaya. Bisa saja engkau membohongi Ayah, bila Ayah menanyakan itu. Bisa saja Ayah mencari tahu detil dan mengkorek dari mana saja, agar Ayah tahu.

Namun, bukankah itu mengkhianati kita. Kalaupun kemudain Ayah tahu, apakah akan memperbaiki akibat sesudahnya. Bukankah lebih baik sekarang Ayah melebihkan waktu untuk keseharian denganmu. Engkaulah CAHAYA MATAKU NAK..seharusnya engkau kunamakan INI NUR’AINA. Namun nama itu mengingatkan akan seseorang. Maka kunamakan saja engkau NISRINA NUR’AATHIF..

Mawar putih dengan cahaya kasih. Engkaulah mawar putihku, kuharapkan memancarkan cahaya kasih kepada sesamamu, sebagaimana doa Ayahmu.  Sebagai wujud syukur, kasih Tuhanmu kepadamu. Namun sesungguhnya engkau tetaplah INI NUR’AINA. Engkaulah cahaya mataku.

Catatan:
Kalau begitu jadinya, tak boleh kah jikalau , dengan ini kemudian kita  bertanya menjadi tugas siapakah, melindungi dan menjaga generasi-generasi muslim kita nantinya. Jikalau dan hanya oleh kita orang tua, seberapa kita bisa. ?. Sementara teknologi sudah semakin merajalela.. ?. Anak-anak kita bisa mendapatkan dimana saja. Sungguh ini mesti mulai dipikirkan, jika tidak beberapa generasi lagi hancur sudah peradaban muslim, yang tinggal hanyalah buih-buih Islam saja, yang akan musnah tersapu angin pantai. Ampuni kami ya Allah..

wasalam

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Etika Tidur dan Bangun

oleh : Al-Qismu Al-Ilmi-Dar Al-Wathan

Berintrospeksi  diri  (muhasabah)  sesaat  sebelum  tidur  sangat  dianjurkan  sekali  bagi  setiap muslim.   bermuha-sabah   (berintrospeksi   diri)   sesaat   sebelum   tidur,   menge-valuasi   segala perbuatan  yang  telah  ia  lakukan  di  siang  hari,  lalu  jika  ia  dapatkan  perbuatannya  baik  maka hendaknya  memuji  kepada  Allah  Subhannahu  wa  Ta’ala  dan  jika  sebaliknya  maka  hendaknya segera memohon ampunan-Nya kembali dan bertobat kepada-Nya.

Tidur  dini,  berdasarkan  hadits  yang  bersumber  dari  `Aisyah  Radhiallaahu  anha  Bahwasanya Rasulullah  Shallallaahu  alaihi  wa  Salam  tidur  pada  awal  malam  dan  bangun  pada  pengujung malam, lalu beliau melakukan shalat.(Muttafaq `alaih)

Disunnatkan  berwudhu  sebelum tidur,  dan  berbaring miring sebelah  kanan. Al-Bara  bin  `Azib Radhiallaahu  anhu  menuturkan  :  Rasulullah  Shallallaahu  alaihi  wa  Salam  bersabda:  “Apabila kamu akan tidur, maka  berwudlulah  sebagaimana  wudlu  untuk  shalat, kemudian berbaringlah dengan miring ke sebelah kanan. Dan tidak mengapa berbalik kesebelah kiri nantinya.”

Disunnatkan  pula  mengibaskan  sperei  tiga  kali  sebelum  berbaring,  berdasarkan  hadits  Abu Hurairah  Radhiallaahu  anhu  bahwasa-nya  Rasulullah  Shallallaahu  alaihi  wa  Salam  bersabda: “Apabila  seorang  dari  kamu  akan  tidur  pada  tempat  tidurnya,  maka  hendaklah  mengirapkan kainnya  pada  tempat  tidurnya  itu  terlebih  dahulu,  karena  ia  tidak  tahu  apa  yang  ada  di atasnya.” Di dalam satu riwayat dikatakan:tiga kali. (Muttafaq `alaih).

Makruh tidur tengkurap. Abu Dzar Radhiallaahu anhu menuturkan :Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam  pernah  lewat  melintasi  aku,  di  kala  itu  aku  sedang  berbaring  tengkurap.  Maka  Nabi membangunkanku  dengan  kakinya  sambil  bersabda  :”Wahai  Junaidab  (panggilan  Abu  Dzar), sesungguhnya  berbaring  seperti  ini  (tengkurap)  adalah  cara  berbaringnya  penghuni  neraka.” (H.R. Ibnu Majah dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

Makruh tidur di atas dak terbuka, karena di dalam hadits yang bersumber dari `Ali bin Syaiban disebutkan  bahwasanya  Nabi  Shallallaahu  alaihi  wa  Salam  telah  bersabda:  “Barangsiapa  yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya.“ (HR. Al-Bukhari di dalam al-Adab al-Mufrad, dan dinilai shahih oleh Al-Albani).

Menutup   pintu,   jendela   dan   memadamkan   api   dan   lampu   sebelum   tidur.   Dari   Jabir Radhiallaahu  anhu  diriwayatkan  bahwa  sesungguhnya  Rasulullah  Shallallaahu  alaihi  wa  Salam telah bersabda: “Padamkanlah lampu di malam hari apa bila kamu akan tidur, tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapat bejana-bejana dan tutuplah makanan dan minuman.” (Muttafaqalaih).

Membaca   ayat   Kursi,   dua   ayat   terakhir   dari   Surah   Al-Baqarah,   Surah   Al-Ikhlas   dan   Al- Mu`awwidzatain (Al-Falaq dan An-Nas), karena banyak hadits-hadits shahih yang menganjurkan hal tersebut.

Membaca do`a-do`a dan dzikir yang keterangannya shahih dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Salam,  seperti  :Ya  Allah,  peliharalah  aku  dari  adzab-Mu  pada  hari  Engkau  membangkitkan kembali segenap hamba-hamba-Mu. Dibaca tiga kali. (HR. Abu Dawud dan di hasankan oleh Al Albani)

Dan membaca: Dengan menyebut nama-Mu ya Allah, aku mati dan aku hidup. (HR. Al Bukhari) Apabila  di  saat  tidur  merasa  kaget  atau  gelisah  atau  merasa  ketakutan,  maka  disunnatkan (dianjurkan)  berdo`a  dengan  do`a  berikut  ini  :  “Aku  berlindung  dengan  Kalimatullah  yang sempurna  dari  murka-Nya,  kejahatan  hamba-hamba-Nya,  dari  gangguan  syetan  dan  kehadiran mereka kepadaku.” (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Al Albani)

Hendaknya  apabila  bangun  tidur  membaca  :  Segala  puji  bagi  Allah  yang  telah  menghidupkan kami setelah kami dimatikan-Nya, dan kepada-Nya lah kami dikembalikan. (HR. Al-Bukhari)

Posted in Uncategorized | Leave a comment